4 Sifat Menghalang Ibadah Diterima Allah ; Ujub, Riak, Takabur, Sum’ah

CIkBseVUsAEUwe9

Berhati-hati duhai sahabatku dalam kehidupan ini. Ramai manusia yang mengerjakan ibadah, namun dicampakkan kembali kemukanya. Ramai manusia yang bersedekah, namun tidak diterima oleh Allah. Ramai manusia yang kuat zikirnya kepada Allah, namun tidak membawa kepada perubahan akhlak. Ramai manusia yang ingin sampai kepada Allah, namun terperangkap dengan penyakit hati.

Jadi, berwaspadalah terhadap amalan-amalan yang dilakukan, agar ia memberi kesan kedalam hati sehingga dapat merasai akan kewujudan Allah dalam dakapan kasih sayang Allah.

Artikel ini dikongsi bukan ingin menakut-nakutkan, ia adalah sebagai peringatan agar mengetahui bisikan hati yang datang daripada syaitan atau bimbingan Nur Muhammad.

Terdapat 4 sifat yang harus dihindari agar tidak menghalang ibadah sampai kepada Allah.

4 Sifat Menghalang Ibadah Diterima Allah

97

1. Riak

Pengertian Riak (Bahasa)

Pengertian Riya menurut Bahasa: riya’ (الرياء) berasal dari kata الرؤية /ru’yah, yang ertinya memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia.

Pengertian Riak (Istilah)

Pengertian Riya Menurut Istilah ialah melakukan ibadah dengan niat supaya ingin dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah kepada Allah SWT.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata:

“Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahawa riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.

Imam Habib Abdullah Haddad pula berpendapat bahawa riya’ adalah menuntut kedudukan atau meminta dihormati daripada orang ramai dengan amalan yang ditujukan untuk akhirat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahawa riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.

Jenis -jenis Riak

Riak dibagi kedalam dua tingkatan:

  • Riak kholish iaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia,
  • Riak syirik iaitu melakukan perbuatan kerana niat menjalankan perintah Allah, dan juga kerana untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur”.

Perbuatan riak bila dilihat dari sisi amal menurut Imam Al-Ghazali dapat dibahagi kepada 5 kategori.

  1. Riak dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, misalnya memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar disangka banyak puasa dan solat tahajud.
  2. Riak dalam penampilan tubuh dan pakaian, misalnya memakai jubah agar disangka soleh atau memperlihatkan tanda hitam di dahi agar disangka rajin solat.
  3. Riak dalam perkataan, misalnya orang yang selalu bicara keagamaan agar disangka ahli agama.
  4. Riak dalam perbuatan, misalnya orang yang sengaja memperbanyak solat sunat di hadapan orang banyak agar disangka orang soleh. Atau seseorang yang pergi haji/umrah untuk memperbaiki statusnya dalam masyarakat.
  5. Riak dalam persahabatan, misalnya orang yang sengaja mengikuti ustaz ke manapun beliau pergi agar disangka ia termasuk orang alim.

Jangan biarkan pahala ibadah-ibadah yang telah sukar kita kumpulkan hilang tanpa erti dan berbuah keburukan lantaran masih ada riak di hati kita. Allah SWT mengingatkan dalam firmannya:

“Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 264)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang solat, yaitu orang-orang yang lalai dari solatnya, yang berbuat kerana riak” (Al Maa’uun 4-6)

Tim RT Reutlingen ZkJqSA 660x330

2. Sum’ah

Pengertian Sum’ah (bahasa)

Kata sum’ah (السمعة) berasal dari kata سمّع samma’a (memperdengarkan) Kalimat samma’an naasa bi ‘amalihi digunakan jika seseorang menampakkan amalnya kepada manusia yang semula tidak mengetahuinya.

Pengertian Sum’ah (Istilah)

Pengertian sum’ah secara istilah adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal solehnya, yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi kepada manusia lain agar dirinya mendapatkan kedudukan atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan dunia.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membezakan antara riak dan sum’ah. Bahawa riak adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah. Sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia. Sehingga, menurutnya semua riak itu tercela, sedangkan sum’ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya kerana Allah dan untuk memperoleh redha-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya di hadapan manusia.

Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riak kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264)

Rasulullah SAW juga memperingatkan dalam haditsnya:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِه

“Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riak maka akan dibalas dengan riak. (HR. Bukhari)

Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riak ertinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya. Na’udzubillah min dzalik.

Doa Hindari Dengki

3. Ujub

Pengertian Sifat Ujub

Ujub adalah mengagumi diri sendiri, iaitu ketika kita merasa bahawa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.

Ibnul Mubarok pernah berkata, “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau merasa bahawa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain.”

Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu kurnia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah.”

Memang setiap orang mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain, tetapi milik siapakah semua kelebihan itu?

Allah berfirman :

“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah : 120)

Maksud dari ayat di atas adalah apapun yang kita miliki, semuanya adalah milik Allah yang dipinjamkan kepada kita agar kita dapat memanfaatkannya dan sebagai ujian bagi kita. Tidak seorang pun yang memiliki sesuatu di alam semesta ini walaupun sekecil zarah kecuali Allah.

WhatsApp Image 2017 10 06 At 14.48.45 768x458

4. Takabur

Pengertian Takabur

Takabur berasal dari bahasa arab Takabbara-Yatakabbaru yang ertinya sombong atau membanggakan diri sendiri. Takabur semakna dengan Ta’azum, iaitu menampakkan keagungannya dan kebesarannya dibandingkan dengan orang lain. Dalam bahasa melayu banyak sekali istilah lain dari takabur ini antara lain, sombong dan angkuh.

Secara naluri setiap orang tidak menyukai sifat takabur atau sombong. Namun dalam keadaan sedar atau tidak terkadang seseorang akan menampakan akan sikap sombongnya, biasanya sifat ini timbul manakala ia merasa memiliki nilai lebih, seperti lebih pandai, lebih kaya, lebih cantik. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya menghindari sifat takabur ini, kerana teladannya adalah Rasulullah SAW, yang meskipun penuh dengan kemuliaan dan kelebihan, namun beliau tetap tidak merasa lebih bahkan para pengikutnya dipanggil dengan sebutan sahabat, yang mempunyai arti kesetaraan.

Sifat takabur ini merupakan sifat tercela dan berbahaya, bahkan dibenci oleh Allah SWT, sebagaimana firman-firmannya :

“Maka masuklah pintu-pintu neraka jahanam, kamu kekal didalamnya, maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri”. (Q.S An Naml : 29)

“sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. (Q.S An Nahl : 23)

Jenis Sifat Takabur
  1. Takabur kepada Allah SWT, iaitu keadaan seseorang yang tidak mengakui dan menerima kebenaran yang datang dari Allah SWT, seperti perintah solat, zakat dan yang lainnya.
  2. Takabur kepada Rasulullah. Berbangga -bangga dengan kelebihan yang ada walhal semuanya adalah datang atas sifat kasih sayang Allah terhadap kekasihNya.
  3. Takabur terhadap sesama manusia, hal ini biasanya terlihat dari hal-hal yang bersifat lahiriah, seperti kekayaan, kedudukan, wajah atau kepandaian.

Menurut pandangan tersebut di atas, secara umum takabur dapat dibagi menjadi dua :

1.Takabur Batini ( Takabur dalam sikap )

Takabur batini atau batin adalah sifat takabur yang tertanam dalam hati seseorang sehingga tidak tampak secara lahir/fizikal, seperti seseorang yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah swt. padahal dia mengetahui kebenaran tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari orang yang termasuk golongan takabur batin memiliki sikap, antara lain enggan minta tolong kepada orang lain meskipun ia memerlukannya serta tidak mahu berdoa untuk memohon pertolongan Allah swt. padahal semua persoalan atau masalah yang kita hadapi tidak dapat diselesaikan sendiri tanpa pertolongan-Nya.

Allah swt. berfirman :
Ertinya : “Kuperkenankan (Kukabulkan) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mukmin: 60)

2. Takabur Zahiri ( Takabur dalam Perbuatan )

Takabur zahiri adalah sifat takabur yang dapat dilihat langsung dengan panca indra, seperti dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Contohnya, riak, angkuh, dan memalingkan muka terhadap orang lain. Allah swt. tidak menyukai orang-orang yang memalingkan muka (sombong) sebagaimana terdapat dalam Surah Luqman Ayat 18 berikut.

Ertinya : “ Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18).

Kesimpulan

Demikian 4 sifat tercela yang boleh menghalang ibadah diterima oleh Allah. Namun, sifat-sifat ini boleh dihakis dan dipandu jika seseorang melalui perjalanan pembersihan hati dan hatinya dipandu oleh guru mursyid. Bimbingan guru mursyid atau guru rohani boleh memandu kehidupan kita untuk berjaya di dunia dan di akhirat. Memalui limpahan cahaya Rasulullah s.a.w. yang mengalir kedalam dada guru akan terlimpah kepada muridnya yang benar.

Mana mungkin jika hatinya memiliki limpahan cahaya tersebut, timbul didalam hatinya akan sifat tercela. Meskipun ada, sang guru akan mencantasnya agar rohaninya sentiasa dalam kerinduan Rasulullah dan memandang-mandang akan wajah-wajah Allah.

Moga sifat ini dapat dihindari dan sentiasa kita berada dalam dakapan kasih sayang Allah.

Rujukan

Danang Hartanto


Carian Berkaitan
riak dalam ibadah

Putih Melati

Karya melambangkan jiwaku

More Posts - Facebook

Tags: #4 Sifat Menghalang Ibadah Diterima Allah ; Ujub #Riak #Sum'ah #Takabur #Ujub

Doa Munajat Ramadhan : Versi Rumi
Doa Munajat Ramadhan Ya Allah Ya Tuhanku! Aku bertaubat kepadaMu dengan sebenar-benar taubat.
Adab Sambut Hari Raya Yang Mudah Di Ikuti
Hari Raya adalah hari kegembiraan dan hari kemenangan kepada seluruh ummat Islam kerana
7 Perkara Sebab Amalan Di Tolak Oleh Allah
Sesungguhnya kehidupan seseorang hamba dinilai berdasarkan sejauh mana ingatan seseorang itu kepada Allah.
Wafat Siti Khadijah Buat Nabi Muhammad Sedih Pada 11 Ramadhan
Pengenalan Khadijah binti Khuwailid (555 M – 619 M) adalah isteri pertama Nabi Muhammad s.a.w. Khadijah

Leave a reply "4 Sifat Menghalang Ibadah Diterima Allah ; Ujub, Riak, Takabur, Sum’ah"